
Pembahasan "World System theory" di kelas pagi ini menyentak dada saya. Ketika sang dosen yang berasal dari Amerika menyebut nama negara saya sebagai contoh penjelasan teori itu. Indonesia diklasifikasikan sebagai negara semi-periphery, berada di antara negara-negara core dan periphery. Dengan kondisi itu, Indonesia "dijajah" oleh negara-negara core, seperti Amerika. Dan disaat yang bersamaan, juga "menjajah" negara-negara periphery. "Seperti yang Indonesia lakukan terhadap East Timor, dan yang terbaru tentu saja, West Papua", begitu penjelasan dosen Amerika itu.
Nasionalisme bisa bangkit dimana saja. Termasuk juga di negeri di luar tanah air. Seperti seorang teman, yang justru merasa menjadi lebih nasionalis, setelah berada di Australia. Menyebutnya sebagai "nasionalisme yang tertunda", tiba-tiba saja dia menjadi begitu cinta Indonesia lebih dari sebelumnya, justru ketika dia merantau, jauh dari rumah. Dari hal yang sebelumnya dirasa sepele, seperti kecintaan terhadap produk made in Indonesia. Mulai dari novel, film-film Indonesia yang dikoleksinya, bahkan sampai korek api pun dibela-belain yang buatan Indonesia!
Banyak juga teman yang concern dengan masalah politik dan ekonomi Indonesia, dan berdiskusi dalam berbagai kesempatan. Begitu bersemangat untuk melakukan perubahan dan begitu sakit hati ketika mendengar kabar buruk tentang negeri yang dicintainya itu. Teman-teman lain bahkan sudah memulai langkah untuk melakukan sesuatu, seperti "Buku untuk Anak Bangsa", sebuah program pengiriman buku berbahasa Inggris ke Indonesia, dengan target mencapai 1,5 ton buku untuk seluruh wilayah Australia.
Saya sendiri dengan ikhlas dan penuh kesadaran hadir di upacara bendera peringatan hari kemerdekaan di Konjen. Justru ketika tidak ada keharusan, absen atau apapun itu. Kecuali sms dari Ibu saya malam harinya yang berpesan agar saya tidak lupa untuk menghadiri upacara bendera besok, sebagai bentuk nasionalisme yang dirasanya perlu. Saya sebenarnya sempat "beradu" pendapat dengan Ibu tentang nasionalisme ini. Dimana menurut saya, "simbol-simbol" seperti keharusan menghadiri upacara tidaklah diperlukan. Saya sendiri malas untuk upacara jika justru diancam nanti diabsen, nanti dilaporkan ke atasan, dan hal-hal seperti itu yang akhirnya akan membuat saya tidak datang.
Di upacara itu, saya banyak bertemu dengan orang Indonesia lainnya selain juga orang-orang Australia, yang di tahun lalu, seingat saya, justru lebih banyak jumlahnya dari orang Indonesia sendiri. Diantara orang-orang Indonesia itu, banyak juga yang sudah menjadi Permanent Residence (PR) atau bahkan warga negara Australia. Saya sempat berbincang-bincang dengan mereka. Dengan seorang teman, mantan ketua PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia), obrolan mengalir mengenai bentuk mengabdi, di dalam negeri ataukah di luar negeri? Apakah orang-orang yang "mengabdi" di luar negeri itu orang-orang yang tidak peduli pada orang-orang di negaranya? Apakah mereka hanya pengecut yang takut dengan kondisi negaranya dan tidak mau kehilangan kenikmatan hidup yang telah diperolehnya di negeri yang lain? Dalam konferensi PPI Dunia tahun lalu di Sydney, yang diikutinya, ternyata sampai pada penutupan konferensi, hal itu tidak bisa disimpulkan. Saya sendiri setuju. Dimanapun kita berada, selama Indonesia ada di dalam dada kita, disitulah kita mengabdi, tidak peduli di dalam maupun luar negeri.
Obrolan dengan teman lain, yang PR, membuat saya juga sedikit terhenyak. Dia ternyata tidak mengetahui seorangpun pahlawan Indonesia karena sudah mengenyam pendidikan sejak sekolah dasar disini. Maafkan dia, pahlawan-pahlawanku! Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Muhammad Yamin.. Bukan salah dia, yang tumbuh dan besar jauh dari guru sederhana yang menerangkan buku PSPB*.
Juga maafkan saya, yang hanya bisa mendebat dosen Amerika saya di kelas. Hampir sebelum dia menutup pertemuan di kelas pagi ini, saya memotongnya dan berbicara. "Indonesia tidak pernah menjajah Timor Leste dan West Papua**! Mungkin Pemerintah memang tidak adil di masa lalu dengan segala kebijakannya yang berasal dari Jakarta. Saat ini sudah dilakukan desentralisasi, untuk memberi ruang lebih pada daerah dan pembagian kue pembangunan yang lebih adil. Saya justru mencurigai Australia yang mempunyai kepentingan untuk melakukan intervensi, baik di Timor Leste maupun di Papua, untuk mencuri kekayaan alam mereka, dan mencurinya dari Indonesia!".
Maaf Bung, hanya itu yang bisa saya lakukan..
* Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
** Istilah yang sudah begitu populer di Australia, seolah adalah sebuah "negara" yang terjajah. Sebuah hegemoni kata.

5 comments:
wew,,,
saluut bung,,, belum tentu kalo aku yg di kelas itu aku bisa tindakan patriotik like that,,, oia,, trus apa jawaban dosennya??
that was at the very end of class din..
jadi cuma 'ngegrumel' singkat2 aja.. "yeeahh..kinda intervention"..pdahal gw ngarepin tmn aussie gw ngerespon.. *they were saved by the bell* d*mn!
aku menitikkan air mata ketika membaca ini. terharu dan malu. terharu karena seorang rifki ternyata begitu nasionalis. malu karena seorang rifki yang pemalas akut itu saja dengan gagah dan nasionalis pergi ke upacara 17an, sementara aku, masih lelap dalam tidurku. padahal kita sama-sama abdi negara. ohhhhhh aku sungguh maluu. harakiri!
ah bisa aja lo Des!
kemungkinannya sih lo lagi ngupas bawang pas baca ini. atau.. abis nonton drama taiwan yang penting itu menurut kuliah culture lo itu. ngaku!
mata saya berkaca kaca membaca ini. MAKASIH, BUNG !
Post a Comment